REVIEW FILSAFAT ILMU

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
1. Ilmu dan filsafat
Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalamkesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri,semacam keberanian untuk berterus terang, sebarapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicaritelah kita jangkau. Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasaragu-ragu dan filsafat dimulai dengan ke dua-duanya.
Karakteristik berfikir filsafat:
a. Sifat menyeluruh: bahwa seorang ilmuan tidak akan puas mengenal ilmu dari segi pandangilmu itu sendiri,dia juga akan melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya.
b. Sifat mendasar: bahwa seorang ilmuan tidak akan selalu melihat bintang-bintang diatasnamun juga membongkar tempat berpijak secara fundamental.
c. Sifat spekulatif
Filsafat: Peneratas Pengetahuan
Filsafat adalah mariner yang merupakan pionir dari ilmu,baik ilmu-ilmu alam maupunsocial.Dalam tahap peralihan bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit,tidak lagimenyeluruh melainkan sektoral.Walaupun demikian dalam taraf ini secara konseptual ilmumasih mendasarkan kepada norma norma filsafat.Dalam tahap selanjutnya ilmu menyatakanmenyatakan dirinya otonom dari konsep konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya padahakikat alam sebagaimana adanya.
Auguste Comte membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan tersebut diatas kedalam tahapreligius,metafisik dan postulat.Dalam tahap pertama maka asas religilah yang dijadikan postulatilmiah sehinga ilmu merupakan dduktif atau penjabatan dari ajaran religi.tahap kedua orangmulai berspekulatif tenteng metafisika(keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahan yangterbebas dari dogma religi dan mengembangkan system pengetahuan di atas dasar postulatmetafisika tersebut.sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah,(ilmu) dimana asas-asas yang digunakan di uji secara positif dalam proses verifikasi yang obyektif.Tahap mula,filsafat mempersoalkan siapakah manusia itu.Tahap yang kedua adalah pertanyaanyang berkisar tentang ada: tentang hidup dan eksistensi manusia.Tahap yang ketiga adalahkejelesan yang dapat ditangkap oleh pendengar tentang apa yang sedang di utarakan.

Filsafat ilmu
Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat penetahuan yang dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmualam dan social.Filsafat ilmu merupakan telaah yang ingan menjawab pertanyaan-pertanyaan:Objek apa yang ditelaah ilmu?bagaiman wujud dari objek mtersebut?dll..(landasan ontologo)Bagaiman proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?bagaimana prosedurnya?dll..(landasan epistimologi)Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan?bagaimana kaitanyan dengan kaidah-kaidah moral?dll..(landasan aksiologi)

BAB II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2.Penalaran
Kemampuan menalar manusia membuatnya mampu mengembangkan pengetahuan yangmerupakan kekuasaan-kekuasaanya.Pengatahuan ini mampu dikembangkan manusai karena dauhal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikaninformasi dan jalan pikiran yang melatarbelekangi informasi tersebut.Kedua, kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu(penalaran)
Hakikat penelaranPenalaran merupakn suatu proses berfikir dalam menarik semua kesimpulan berupa pengetahuan.Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan.jadi,penalaran merupakan kegaatan berfikir yang mempunyaikarakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.
Ciri-ciri penalaran:
1. Adanya suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika /proses berfikir logis

2. Sifat analitik dari proses berfikirnya
Pengetahuan yang dipergunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber padarasio(rasionalisme) dan fakta (empirisme). Kegiatan berfikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran yaitu intuisi dan wahyu.Intuisimerupakan suatu kegiatan berfikir nonanalitikyang tidak mendasarkan diri kepada suatu pola berfikir tertentu.
3. Logika
Logika secara luas dapat didefinisikan sebagai ³Pengkajianuntuk berfikir secara sahih´.Ada dua jenis cara penarikan kesimpulan,yaitu logika induktif dan logika deduktif.Logika induktif erathubungan nya dengan penariakn kesimpulan dari kasus-kasus individual nyat menjadikesimpulan yang bersifat umum.Sebaliknya ,logika dedukif yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual(khusus).Penariak kesimpulan secara deduktif biasanya mengaunakan pola berfikir yangdinamakn silogisme.Silogisme disusun dari dua buah pernyataan (premis mayor dan premisminor) dan sebuah kesimpulan.
4. Sumber Pengetahuan
Pada dasarnya terdapat dua cara pokok untuk mendaop pengetahuan yang benar. Pertama,mendasarkan diri kepada rasio. Kedua, mendasarkan pada pengalaman. Sebaliknya, kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstak namun lewat pengalaman yang kongkret. Metode yang digunakanadalah metode induktif. Selain rasionalisme dan empirisme kita juga mengenel intuisi dan wahyu sebagai sumber pengetahuan.
5. Kriteria kebenaran
Ketiga pernyataan ini benar karena bab pernyataan dan kesimpulan yang ditarik adalah konsisten dengan penyataan dan kesimulan terdahulu yang telah dianggap benar. Teori yang didasarkan dalam pertanyaan ini disebut teori koherensi. Paham yang lain adalah kebeneran yangberdasarkan kepada teori korespondensi dimana suatu pernyataan itu dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori pragmatic dimina kebenaran diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya. suatu pernyataan itu benar, jika pernyataan itu atau konsekwensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.

BAB III
ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
1. Metafisika
Metafisika merupakan tempat berpijak bagi setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah.
2. Beberapa Tafsiran Metafisika
Tafsiran paling utama manusia terhadap alamini adalah adanya wujud-wujud yang bersifatgaib. animisme adalah kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme,dimanamanusai percaya akan adanya makhluk-makhluk gaib dibenda-benda seperti batu, pohon, dan air terjun.
Sebaliknya, paham naturalisme berpendapat bahwa gejala-gejala alam yang terjadi tidak disebabkan oleh makhluk-makhluk geab melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itusendiri,yang dapat kita pelajari dan kita ketahui. Disini kaum mekanistik ditentang oleh keum vitalistik.Kaum metanistik melihat gejala alam(termasuk makhluk hidup) heya merupakan gejala meta ±fisika semata. Sedangkan bagi kaumvitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansi dengan proses tertentu.
3. Asumsi
Merupakan suatu pendapat atau perkiraan yang dikeluarkan seseorang saat melihat sauatu kejadian
4. Peluang
Adalah suatu kemungkinan yang pastinya dapat terjadi dalam suatu kejadian. Misalnya adanya peluang bola itu akan masuk kegawang atau tidak saat ditendang.
5. Beberapa Asumsi Dalam Ilmu
Dalam mengembangkan asumsi maka perlu diperhatikan beberapa hal:
a. asumsi itu harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. asumsi ini harus oprasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Asumsi ini merupakan dasar daritelaah ilmiah.
b. Asumsi itu harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya´ bukan bagaimana keadaan seharusnya. Asumsi ini meruakan dasar dari telaah moral.
6. Batas-batas penjelajahan ilmu
Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia yang juga disebabkanmetode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris.Ilmuhanya berwenang menentukan mana yang benar dan mana yang sakah ,tentang baik dan buruk semua (termasul ilmu) berpaling kepada suber-sumber moral ;tentang indah dan jelek (termasuk ilmu) berpaling kepada pengkajian estetik.
7. Cabang-cabang ilmu
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yangkemudian menjadi rumputn ilmu-ilmu alam (the natural science) dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang-cabang ilmu social(the social science). Ilmu alam membagi diri kedalam dua kelompok lagi yakni ilmu alam(the physical science) danilmu hayat (the biological science).
Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alamsemesta sedangkan alam kemudian berkembang lagi menjadi fisika (mempelajari massa danenerga),Kimia (mempelajari substansi zat),astronomi(mempelajari bintang-bintang dlangit) danilmu bumi yang tiap cabang ini nantinya membentuk ranting-ranting baru.
Ilmu-ilmu social berkembang agak lambat.Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu socialyakni antropologi(mempelajari manusia dalam prespektif waktu dantempat),Psikologi(mempelajari proses mental dan kelakuan menusia ,ekonomi,sosiologi dan ilmu politik.

BAB IV
EPISTIMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
1. Jarum sejarah pengetahuan
Pohon pengetahuan mukai dibeda-bedakan paling tidak berdsarkan apa yangdiketahui, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pangetahuan itu digunakan. Menghadapi kenyataan ini terdapat kembali orang yang ingin memutar kembali jarum sejarah dengan mengaburkan batas-batas otonomi disiplin waktu. Pendekatan interdisipliner memeng merupakan keharusan, namun tidak dengan mengaburkan otonomi masing-masing disiplin waktu yang telah berkembang berdasarkan route-nya masing-masing, namun dengan menciptakan paradigma baru.Paradigma ini adalah bukan ilmu melainkan cara berfikir ilmiah seperti logika, metemetika, statistika dan bahasa.
2. Pengetahuan
Pengetahuan pada hakikatnya adalah segenap apa yang kita ketahui tenteng suatu obyek tertentu, termasuk kedalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia disamping berbagai pengetahuan yang lain seperti seni dan agama. Secara ontologi ilmu membahas diri pada pengkajian obyek yang berada pada lingkup pengalaman manusai sedangkan agama memasuki daerah penjelajahan yang bersifat transendental yang berada diluar pangalaman kita.
Kalau ilmu mencoba mengembangkan model yang sederhana mengenai dunia empiris dengan mengabstraksikan realitas menjadi beberapa variabel yang terikat dalam sebuah hubungan yang bersifat rasional,maka seni mencoba mengungkapkan obyek penelaahan itu sehingga menjadi bermakna bagi pencipta dan mereka yang meresapi lewat berbagai kemempuan manusia untuk mengakap seperti pikiran,emosi dan panca indra.
Perkembangan yang berasal dari mitos disebut seni terapan yang mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari di samping seni lhalus yang bertujuan untuk memperkaya spiritual. Seni terapan ini pada hakikatnya mempunyai dua ciri pertama, bersifat deskriptif dan fenomenologi dan kedua, ruang lingkup terbatas. Sifat deskriptif ini mencerminkan proses pengkajian yang menitik beratkan kepada penyelidikan gejala-gejala yang bersifat empiris tanpa kecenderungan untuk pengembangan postulan yang bersifat teoritis ± atomistis
Jadi dalam seni terapan kita tidak mengenal konsep seperti grafitasi atau kemagnetan yang bersifat teoritis. Pada peradapan tertentu seni terapan ini bersifat kuantitatif artinya perkembang ditandai dengan lebih banyaknya pengetahuan-pengetehuan yang sejenis. Sedangkan pada peradapan lain perkembangan bersifat kualitatif artinya dikembangkan konsep-konsep baru yang bersifat teotitisdan mendasar. Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos.

Namun dalam perkembangan rasionalisme memiliki banyaknya kelemahan seperti seperti banyaknya kesimpulan yang tidak sesuai kenyataan. Kelemahan inilah yang menimbulkan berkembangnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dalam kenyataan pengalaman.
3. Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapat pengetahian yang berupa ilmu. Metode menurut Seni, merupakan suatu proses atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistimatis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dari peraturan-peraturan dalam metode ilmiah. Metode limiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan metode ini diharapkan mempunyai karaktaristik-karaktaristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah. Dalam hal ini maka metode ilmiah menggabungkan cara berfikir deduktif dan induktif.
Dilihat dari perkembangan kebudayaan manusia dalam menghadapi masalah dapat dibedakan dalam ciri-ciri tertentu maka Van Peursen membaginya menjadi tahap mitis, tahap ontologi dan tahap fungsional. Yang dimaksud tahap mitis adalah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya.
Yang dimaksud tahap ontologi adalah sikap manusia yang tidak lagi merasa dirinya terkepung dari kekuatan-kekuatan geib dan mengmbil jarak dari obyek disekitarny dan mulai melakikan penelaahan-penelaahan terhadap obyek tersebut. Sedabgkan tahap fungsional tidak hanya merasa telah bebas dari kekuatan-kekuatan gaibdan mampunyai pengetahuan berdasarkan penelaahan obyek disekitar kehidupan. Namun mampu memfungsikannya pada kepentingan dirinya.
4. Stuktur Penetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhisyarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu.Metode ilmiah mempunyai mekanisme umpan balik yang bersifat korektif yang memungkinkanupaya keilmuan menemukan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.Pengetahuan ilmiah pada hakikatnya mempunyai tiga fungsi, yakni menjelaskan, meramalkandan mengontrol.Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan yakni deduktif, probabilistik, fungsionalatau teleologis, dan genetik.
Tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten. Sistem yang terdiri dari pernyataan-pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten jelas memerlukan konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut adalah teori. Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut.
Artinya makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Disamping hukum maka teori keilmuan juga mengenal kategori pernyataan yang disebut prinsip. Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi, umpamanya saja hukum sebab akibat sebuah gejala.
Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembukatiannya. Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. Itulahsebabnya maka dalam pengkajian ilmiah seperti penelitian dituntut untuk menyatakan secara tersurat postulat, asumsi, prinsip serta dasar-dasar pikiran lainnya yang dipergunakan dalam mengembangkan argumentasi.Dalam buku Nitisastra, Nitisastra, yang diperkirakan profesor Poerbacaraka ditulis pada akhir zaman Majapahit, disebutkan, bahwa salah satu musuh bagi orang muda dalam menuntut ilmuadalah gila asmara.

BAB V
SARANA BERFIKIR ILMIAH
1. Sarana Berfikir ilmiah
Mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
Tujuan mempelajari sarana ilmiahadalah untuk memungkinkan kita melakukan penelahaan ilmiah secara baik, sedangkan tujuanmempelajari ilmu dimaksudkan untuk memcahkan masalah kita sehari-hari. Sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik.Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
2. Bahasa
Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak di mana obyek-obyek yang factual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak.Kedua aspek bahasa ini yakni aspek informatika dan emotif keduanya tercermin dalam bahasa yang kita pergunakan. Bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan, dansikap. Atau seperti dinyatakan oleh Kneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsisimbolik. Emotif, dan afektif. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harusterbebas dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif,artinya identik dengan pesan yang dikirimkan.
Perbendaharaan kata-kata, perbendaharaan ini pada hakikatnya merupakan akumulatif pengalaman dan pemikiran mereka. Artinya dengan perbendaharaan kata-kata mereka punyaimaka manusia dapat mengkomunikasikan segenap pengalaman dan pemikiran mereka.Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia yakni dunia pengalaman yang nyatadan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa.Kebudayaan mempunyai landasan-landasan etika yang menyatakan mana tindakan yang baik mana yang tidak.
Lewat bahasa manusia menyusun sendi-sendi yang membuka rahasia alam dalam berbagai teoriseperti elektonik, termodinamik, relativitas, dan quantum.Proses komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan objektif yakni terbebas dari unsur- unsur emotif.
a. Berbahasa dengan jelas artinya :
• Bahwa maka yang terkandung dalam kata- kata yang di gunakan di ungkapkan secaratersurat (eksplisit ) untuk mencegah pemberian makna yang lain.
• Mengemukakan pendapat atau jalan pemikiran secara jelas. Kalau kita teliti lebih lanjutmaka kalimat-kalimat dalam sebuah karya ilmiah pada dasarnya merupakan suatu pernyataan.
b. Beberapa Kekurangan Bahasa
• Bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif,dan simbolik.
• Sifat majemuk (pluralistik) dari bahasa.
• Bahasa sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam mempergunakan kata-kata terutamadalam memberikan definisi.
• Konotasi yang bersifat emosional

3. Matemetika
Matematika memang bahasa yang eksak, cermat dan terbebas dari emosi.
Matematika Sebagai Bahasa
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang inginkita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai artisetelah sebuah makna diberikan padanya.Matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kubur, majemuk danemosional dari bahasa verbal. Lambang-lambang dari matematika dibikin secara artifisal danindividual yang merupakan perjanjian yang berlaku.
Sifat Kuantitatif Dari Matematika
Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secarakuantitatif.Penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh bahasa verbal tidak bersifat eksak, menyebabkandaya prediktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat.Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan konsep pengukuran. Lewat pengukuran, maka kita dapat mengetahui dengan tepat berapa panjang sebatang logam dan berapa pertambahan panjangnya kalau logam itu dipanaskan. Sebatang logam kalau dipanaskanakan memanjang dapat diganti dengan pernyataan matematik yang lebih eksak umpamanya: t)LP1 = Po (1 +Dimana P1 merupakan panjang logam pada temperatur t, Po merupakan merupakankoefisien L panjang logam tersebut pada temperatur nol dan pemuai logam tersebut.Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dan ilmu.
Perkembangan Matematika
Ditinjau dari perkembangannya maka ilmu dapat dibagi dalam tiga tahap yakni tahap sistematika, komparatif, dan kuantitatif.Disamping sebagai bahasa maka matematika juga berfungsi sebagai alat berfikir. Matematika,menurut Wittgenstein, tak lain adalah metode berfikir logis. Berdasarkan perkembangannyamaka masalah yang dihadapi logika makin lama makin rumit dan membuthkan struktur analisisyang lebih sempurna
Griffits dab Howson (1974) membagi sejarah perkembangan matematika menjadi empat tahap.Tahap yang pertama dimulai dengan matematika yang berkembang pada peradaban mesir kunodan daerah sekitarnya seperti Babylonia dan Mesopotamia.Peradaban Yunani inilah yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasionaldengan menetapkan berbagai langkah dan definisi tertentu.
Bagi dunia keilmuan matematika berperan sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang cermat dan tepat.Kriteria kebenaran dari matematika adalah konsistensi dari berbagai postulat, definisi dan berbagai aturn permainan lainnya. Untuk itu maka matematika sendiri tidak bersifattunggal,seperti juga logika, melakukan bersifat jamak.
Perubahan salah satu postulat Euclidtersebut yang semula berbunyi dari satu titik di luar sebuah garis hanya dapat ditarik satu garissejajar dengan garis tersebut menjadi dari satu titik di luar sebuah garis dapat ditarik garis-garissejajar dengan garis tersebut yang jumlahnya tak terhingga.Matematika bukanlah merupakan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan cara berfikir untuk mendapatkan pengetahuan tersebut.
Tesis utama kaum logistik adalah bahwa matematika murni merupakan cabang ari logika.Kaum formalis menekankan kepada aspek formal dari matematika sebagai bahasa perlambang(sign-language) dan mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa lambang. Usaha kaum formalis ini belum banyak membawa hasil.
Matematika dan Peradaban
Ilmu kualitatif adalah masa kecil dari ilmu kuantitatif, ilmu kuantitatif.Kebenaran yang merupakan fundasi dasar dari tiap pengetahuan; apakah itu ilmu, filsafat atauagama semuanya mempunyai karakteristik yang sama: sederhana dan jelas; transparan bagaikristal kaca.
4. Statistika
Logika deduktif berpaling kepada matematika sebagai sebagai sarana penalaran penarikan kesimpulan sedangkan logika induktif berpaling kepada statiska. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menghitung tingkat peluangini dengan eksak.
Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungankausalita antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalamsuatu hubungan yang bersifat empiris.Secara hakiki statistika mempunyai kedudukan yang sama dalam penarikan kesimpulan induktif seperti matematika dalam penarikan kesimpulan secara deduktif. Demikian juga penarikankesimpulan deduktif dan induktif keduanya mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dalam penelahaan keilmuan.
5. Karakteristik Berpikir Induktif
Dasar dari teori statistika adalah teori peluang. Menurut bidang pengkajiannya statistika dapatkita bedakan sebagai statistika teorietis dan statistika terapan.Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah

BAB VI
AKSIOLOGI: NILAI KEGUNAAN ILMU
1. Ilmu dan Moral
Bertrand Russell menyebut perkembangan ini sebagai peralihan ilmu dari tahap kontemplasi kemanipulasi. Dalam tahap manipulasi inilah maka masalah moral muncul kembali namun dalam kaitan dengan faktor lain. Kalau dalam tahap kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap manipulasi in masalah moral berkaitan berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah.
Atau secara filsafati dapat dikatakan, dalam tahap pengembangan konsep terdapat masalah yang ditinjau dari segi ontologi keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuan. Ontologi diartikan sebagai pengkajian mengenai hakikat realitas dari obyek yang ditelaah dalam membuahkan pengetahuan, aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapi ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak ini para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologism maupun aksiologis. Golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan.
2. Tanggung Jawab Sosial Ilmuan
Ilmu merupakan hasil karya perorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Dengan perkataan lain, penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat sosial.Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan dalam hal ini adalah memberikan perspektif yang benar: untung dan ruginya, baik dan buruknya; sehingga penyelesaian yang obyektif dapat dimungkinkan. Kemampuan analisis seorang ilmuwan dapat dipergunakan untuk mengubah kegiatan nonproduktif menjadi kegiatan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Singkatnya dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari.Karakteristik lain dari lmu terletak dalam cara berfikir untuk menemukan kebenaran. Pikiran manusia bukan saja dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran namun sekaligus juga dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan hal-hal yang tidak benar.
Proses menemukan kebenaran secara ilmiah mempunyai implikasi etnis bagi seorang ilmuwan. Karakteristik proses tersebut merupakan kategori moral yang melandasi sikap etis seorang ilmuwan. Kebenaran berfungsi bukan saja sebagai jalan pikirannya namun seluruh jalan hidupnya. Di bidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi namun memberi contoh.
Dia harus tampil di depan bagaimana caranya bersifat obyejtif, terbuka,menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggapnya benar, dan kalau perlu berani mengakui kesalahan. Bila kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya, baik secara intelektual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu akan berdiri dengan kukuh.
3. Nuklir Dan Pilihan Moral
Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya diperguanakn untuk menindas bangsa lain meskipun yang memperguanakn itu adalah bangsanya sendiri.Einstein waktu itu memiliki sekutu karena menurut anggapannya sekutu mewakili aspirasikemanusiaan.Kenetralan seorang ilmuwan dalam hal ini disebabkan anggapannya bahwa ilmu pengetahuanmerupakan rangkaian penemuan yang mengarah kepada penemuan selanjutnya. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak melalui loncatan-loncatan yang tidak berkententuan melainkan melalui proseskumulatif secara teratur.
Seorang ilmuwan tak boleh memutarbalikkan penemuannya bila hipotesisnya yang dijunjungtinggi yang disusun di atas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyatahancur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian.Penemuan ilmiah tidaklah diperuntukkan bagi suatu golongan tertentu namun bagi kemanusiaansecara keseluruhan.Kenetralan dalam proses penemuan kebenaran inilah yang mengharuskan ilmuwan untuk bersikap dalam menghadapi bagaimana penemuan itu diguanakn. Ternyata ilmu tidak saja memerlukan kemampuan intelektual namun juga keluhuran moral.Tanpa itu maka ilmu hanya akan menjadi Frankenstein yang akan mencekik penciptanya danmenimbulkan malapetaka.
4. Revolusi Genetika
Kimia merupakan kegemilangan ilmu yang pertama dimulaia sebagai kegiatan pseudo ilmiahyang bertujuan mencari obat mujarab untuk hidup abadi dan rumus campuran kimia untuk mendapatkan emas.Revolusi genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuwan manusia sebab sebelum iniilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri.Ilmu berfungsi sebagai pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya
Tujuan hidup ini, yang berkaitan erat dengan hakikat kemanusiaan itu sendiri, bersifat otonomdan terlepas dari kajian dan pengaruh ilmiah.Kesimpulan yang dapat ditarik dari seluruh pembahasan kita tersebut di atas menyatakan sikapyang menolak terhadap dijadikannya manusia sebagai obyek penelitian genetika. Secara moralkita lakukan evaluasi etis terhadap suatu obyek formal (ontologis) ilmu. Menghadapi nuklir yangsudah merupakan kenyataan maka moral hanya mampu memberikan penilaian yang bersifataksiologis, bagaimana sebaiknya kita mempergunakan tenaga nuklir untuk keluhuran martabatmanusia.

BAB VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN
Manusia dan Kebudayaan
Kebudayaan didefinisikan untuk pertama kali oleh E. B. Taylor kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat sertakemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.Kuntjaraningrat (1974) secara lebih terperinci membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yangterdiri dari sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian serta sistem teknologi dan peralatan.
Maslow mengidentifikasikan lima kelompok kebutuahan manusia yakni kebutuhan fisiologi, rasaaman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi. Nilai-nilai budaya ini adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujudkebudayaan. Disamping nilai-nilai budaya ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidupyang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. Padadasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang kongret dari nilai budaya yang bersifatabstrak; kegiatan manusia dapat ditangkap oleh budi manusia.Menurut Alfred Korzybski, kebudayaan mempunyai kemampuan mengikat waktu.
Masalah ini akan didekati dari segi nilai-nilai budaya sebab objek inilah yang merupakan dasar ideal bagi terwujudnya kebudayaan lainnya.Kebudayaan dan PendidikanAllport, Vernon dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaanyakni nilaai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik dan agama. Yang dimaksudkan dengan nilaiteori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirismedan metode ilmiah. Nilai ekonomi mencakup kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhikebutuhan manusia.

Nilai estetika berhubungan dengan keindahan dan segi-segi artistik yangmenyangkut antara lain bentuk, harmoni dan wujud kesenian lainnya yang memberikankenikmatan kepada manusia. Nilai sosial berorientasi kepada hubungan antara manusia dan penekanan segi-segi kemanusiaan yang luhur. Nilai politik berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia politik. Sedangkan nilai agamamerengkuh pernyataan yang bersifat mistik dan transedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi.
Skenario masyarakat indonesia di masa yang akan datang tersebut, memperhatikan indikator dan perkembangan yang sekarang ada, cenderung untuk mempunyai karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) Memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional kita masyarakatIndonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang rural agraris menjadi masyarakatmodern yang urban dan bersifat industri serta (2) Pengembangan kebudayaan kita ditujukkan kearah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsaindonesia yakni pancasila.Dibandingkan dengan masyarakat tradisional maka masyarakat modern mempunyai indikator-indikator sebagai berikut: (a) lebih bersifat analitik di mana sebagian besar aspek kehidupan bermasyarakat didasarkan kepada asas efisiensi baik bersifat teknis maupun ekonomis dan (b)lebih bersifat individual daripada komunal terutama ditinjau dari segi pengembangan potnsimanusiawi dan masalah survival.
Pengembangan kebudayaan nasional kita ditujukan ke arah terwujudnya suatu peradban yangmencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan dasar bagi pengembangan peradaban tersebut.Kreatifitas sering dihubungkan dengan kreasi di bidang seni. Horace B. English dan Ava C.English (1958) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan modus barudalam ekspresi artistik.
Ilmu Dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-ita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara.Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama,ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaannasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan waktu suatu bangsa.Hakikat keilmuan itu sendiri yang merupakan sumber nilai yang konstruktif bagi pengembangankebudayaan nasional pengaruhnya dapat dikatakan minimal sekali.
Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berpikir bukan satu-satunya produk dari kegiatan berpikir.Karakteristik dari ilmu. Pertama ialah bahwa ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Karakteristik yang kedua yakni alur jalan pikiran yanglogis yang konsisten dengan pengetahuan yang telah ada. Karakteristik yang ketiga yakni pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran obyektif. Karakteristik keempat yaknimekanisme yang terbuka terhadap koreksi.
Dengan demikian maka manfaat nilai yang dapat ditarik dari karakteristik ilmu ialah sifatrasional, logis, obyektif dan terbuka. Di damping itu sifat kritis merupakan karakteristik yangmelandasi keempat sifat tersebut.Ilmu Sebagai Asas MoralDua karakteritik yang merupakan asas moral bagi kaum ilmuwan yakni meninggikan kebenarandan pengabdian secara universal. Nilai-Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan NasionalTujuh nilai yang terpancar dari hakikat keilmuan yakni kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka,menjunjung kebenaran dan pengabdian universal.
Sifat menjunjung kebenaran dan pengabdian universal akan merupakan faktor yang pentingdalam pembinaan bangsa (nation building) di mana seseorang lebih menitikberatkan kebenaranuntuk kepentingan nasional dibandingkan kepentingan golongan.Kearah Peningkatan Peranan KeilmuanLangkah-langkah yang sistematik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagaimana tercakup di bawah ini.Pertama, ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah-langkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaanmasyarakat kita.
Kedua, ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran.Agar usaha untuk mempromosikan ilmu tidak menjurus kepada timbulnya gejala yang disebut scientisme; suatugejala, yang disebut Gerald Holton, sebagai ³Kecanduan terhadap ilmu dengan kecenderunganuntuk membagi semua pemikiran kepada dua golongan yakni ilmu dan omong kosong´.
Ketiga, asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percayaterhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut.Keempat, pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.Kelima, pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidangfilsafat terutama yang menyangkut keilmuan.Keenam, kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan. Pada hakikatnya semua unsur kebudayaan harus diberi otonomi dalam menciptakan paradigmamereka sendiri.
Dua Pola Kebudayaan
C.P. Snow dalam bukunya yang sangat provokatif The Two Cultures mengingatkan negara-negara barat akan adanya dua pola kebudayaan dalam tubuh mereka yakni masyarakat ilmuandan non-ilmuan.Tujuan ilmu adalah mencari penjelasan dari gejala-gejala yang kita temukan yangmemungkinkan kita mengetahui sepenuhnya hakikat objek yang kita hadapi.Dalam soal pengukuran yang menjadi dasar bagi suatu analisis kuantitatif maka ilmu-ilmu sosialmenghadapi dua masalah.
Masalah yang pertama adalah sukarnya melakukan pengukuran karenamengukur aspirasi atau emosi seorang manusia adalah tidak semudah mengukur panjang sebuahlogam. Masalah yang kedua adalah banyaknya variabel yang mempengaruhi tingkah lakumanusia.Ilmu-ilmu perilaku manusia tidak lagi terpaku dalam adu argumentasi secara rasional mengenaiteori mana yang benar namun langsung mencari pembuktian empiris sebagai wasit yang bersifatfinal.
Berdasarkan hal itu maka kita dapat membedakan dua tujuan pokok dalam pendidikanmatematika. Tujuan yang pertama mencakup penguasaan matematika secara teknis danmendalam dalam rangka penalaran deduktif untuk menemukan kebenaran. Tujuan yang keduaadalah penguasaan matematika sebagai alat komunikasi simbolik.Secara lebih kongret mungkin kita dapat berpaling kepada contoh dalam pendidikan statistika.Bagi tujuan pendidikan yang pertama yakni pendidikan analitik maka yang penting adalah penguasaan berpikir matematik yang memungkinkan suatu analisis sampai terbentuknya rumusstatistika tersebut. Bagi tujuan pendidikan yang kedua yakni pendidikan simbolik maka yang penting adalah pengetahuan mengenai kegunaan rumus tersebut serta penalaran deduktif dalam penyusunan meskipun tidak secara seluruhnya merupakan analisis matematik.

BAB VIIII
LMU DAN BAHASA
1. Tentang Terminologi: Ilmu,Ilmu Pengetahuan atau sains?
Dua Jenis KetahuanManusia dengan segenap kemampuan kemanusiannya seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya dan mengabstrasikan tangkapantersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk ketahuan umpamanya kebiasaan, akal sehat,seni, sejarah dan filsafat. Terminologi ketahuan ini adalah terminologi artifisial yang bersifatsementara sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu.
Dalam bahasa inggris sinonimdari ketahuan ini adalah knowledge.Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok ketahuan (knowledge) ini terdapat tiga kriteria yakni:
1) Apakah obyek yang ditelaah yang membuahkan ketahuan (knowledge) tersebut?
2) Cara yang dipakai untuk mendapatkan ketahuan (knowledge) tersebut!
3) Untuk apa ketahuan (knowledge) ini dipergunakan atau nilai keguanaan apa yang dipakaiolehnya?
Salah satu dari bentuk ketahuan (knowledge) ditandai dengan:
• Obyek ontologis: pengalaman manusia yakni segenap ujud yang dapat dijangkau lewat pancaindra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra.
• Landasan epistemologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logikainduktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hyphotetico-verifikasi.
• Landasan aksiologis: kemaslahatan manusia artinya segenap ujud ketahuan itu secara moralditujukan untuk kebaikan hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s