cabang filsafat dan aliran filsafat (faisal)

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Filsafat telah muncul dari abad-abad yang lalu, telah banyak filsuf yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih mereka tentang kebenaran. Dimulai dari zaman Yunani, pertengahan, zaman klasik, hingga zaman sekarang. Para filsuf tentang menghasilkan pemikir mengenai kebenaran asal mula kehidupan dan tentang baik dan buruk sesuatu.
Abidin mengemukakan bahwa luasnya lapangan ilmu filsafat mengakibatkan menjadi sukar pula orang mempelajarinya, dari mana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya agar orang yang mempelajarinya segera dapat mengetahuinya.
Pada zaman modern ini pada umunya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu dengan mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang (metode historis), dan dengan cara mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).
Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan.Seperti juga pembicaraan tentang zaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing masing.
Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zaman perjuangannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan mana yang benar dan mana yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah.
Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan manakah yang baik dan manakah yang buruk dalam pembuatan manusia.Di sini tidak dibicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika. Dalam metode sistematis ini para filsuf kita konfrontasikan satu sama lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita konfrontasikan saja pendapat pendapat filsuf zaman klasik (Plato dan Aristoteles) dengan pendapat filsuf zaman pertengahan (Al-Farabi atau Thimas Aquinas) dengan pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodasi masing-masing.Begitu juga dalam soal-soal logika, metafisika, dan lain-lain. Makalah ini akan membahas cabang dan aliran filsafat berdasarkan pendapat para ahli yang disusun melalui metode sistematis.

2. Permasalahan
Banyak ahli filsafat masih berselisih paham dalam memberikan pengertian tentang cabang-cabang filsafat, bahkan hingga saat ini cabang-cabang filsafat dipahami sebagai pembagian filsafat berdasarkan objek yang dikaji. Permasalahan yang akan dibahas adalah apa yang dikaji oleh pengetahuan (ontology)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (epistemology) serta untuk apa pengetahuan dipergunakan (aksiologi)?

PEMBAHASAN

Cabang dan Aliran Filsafat
Filsafat adalah sebagai induk yang mencakup semua ilmu khusus. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat. Namun, dengan begitu muncullah filsafat baru yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.
Menurut Suriasumantri (2000:32), pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang utama filsafat ini bertambah lagi yakni, tentang teori ada, tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat keberadaan zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika dan cabang-cabang tersebut terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut, Suriasumantri (2001:35) terdapat tiga landasan filsafat. Ketiga landasan itu yaitu ontologis, epistemologi, dan aksiologis. Apa yang dikaji oleh pengetahuan (ontology)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (epistemology) serta untuk apa pengetahuan dipergunakan (aksiologi)?

Cabang Filsafat
1. Ontologi
Objek telah ontologi adalah yang ada.Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

a. Objek Formal
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

b. Metode dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas.Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P)
Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt)
Jadi, badan itu fana’ (S-P)
Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:
Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus (Tt-S)
Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P)
Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)
Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.
Sudarsono (1993:118) mengemukakan bahwa tokoh yang membuat istilah ontologi popular adalah Christian Wolf (1697-1714). Istilah ontology berasal dari bahasa Yunani yaitu ta onta berarti “yang berada” dan logi berarti “ilmu pengetahuan”.Dengan demikian ontologi merupakan ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada.

Aliran Ontologi
Di dalam ontology terdapat beberapa aliran yang penting yaitu meliputi monoisme, dualisme, idealisme, dan agousticisme. Monoisme memandang bahwa sumber yang asal itu hanya tunggal. Menurut Thales: air, menurut Anaximandros: to apeiron yang berarti “tak terbatas”, dan menurut Anaximenes: udara. Dualisme memandang alam menjadi dua macam hakikat sebagai sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani.Idealisme dinamakan juga spiritualisme, memandang segala sesuatu serba-cita atau serba roh. Agousticisme merupakan aliran yang mengikari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika.

a) Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Ajaran Aristoteleslah yang mengajarkan metafisika. Metafisika membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak. Dengan belajar metafisika orang justru akan mengenal Tuhannya, dan mengetahui berbagai macam aliran yang ada dalam metafisika.

b) Teologi
Thomas Aquinas (185-254) mengajarkan theologi naturalis. Bakry yang dikutip Surajiyo (2005:125-126), berpendapat bahwa golongan yang kedua dari metafisika adalah teologi. Yang dimaksud ajaran teologi dalam ajaran filsafat metafisika ialah teori naturalis. Yakni filsafat ketuhanan yang berpangkal semata-mata pada kejadian alam.
Teologi naturalis dibagi menjadi dua aliran besar, yaitu Theisme dan Pantheisme. Theisme ialah aliran yang berpendapat bahwa ada sesuatu kekuatan yang berdiri di luar alam dan menggerakkan alam ini. Kekuatan itu adalah Tuhan.Tuhan itu yang menggerakkan dan memelihara jalannya aturan-aturan dunia sehingga dunia ini teratur dengan baik. Jadi, Tuhan berada di luar alam. Tuhan adalah sebab bagi apa yang ada di sunia ini. Alam ini tidak beredar menurut hukum dan peraturan-peraturan yang tidak berubah, tetapi beredar menurut kehendak mutlak Tuhan. Sedangkan Pantheisme mengandung arti seluruhnya Tuhan.Pantheisme berpendapat bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya ialah Tuhan, dan tuhan ialah semua yang ada dalam keseluruhannya.

2. Epistemologi
Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia tidaklah memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”? Istilah Epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F. Feriere adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan kesahihan pengetahuan. Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.

Aliran Epistemologi
Pada garis besarnya ada beberapa aliran epistemologi, antara lain: emperisme, idealisme, kritisisme, dan rasionalisme.
a. Empirisme
Praja (2003:105—112) mengemukakan bahwa Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu emperia yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia.Pada dasarnya empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme.
Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur.Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Tokoh-tokoh aliran empirisme, antara lain: Francis Bacon (1210-1292), Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), George Berkeley (1665-1753), David Hume (1711-1776), dan Roger Bacon (1214-1294).

b. Idealisme
Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa realitas ini terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Istilah idealisme yang menunjukkan suatu pandangan dalam filsafat belum lama dipergunakan orang (Praja, 2003:126).
Namun demikian, pemikiran tentang ide telah dikemukakan oleh Plato sekitar 2.400 tahun yang lalu. Menurut Plato, realitas yang fundamental adalah ide, sedangkan realitas yang tampak oleh indera manusia adalah bayangan dari ide tersebut. Bagi kelompok idealis alam ini ada tujuannya yang bersifat spiritual. Hukum-hukum alam dianggap sesuai dengan kebutuhan watak intelektual dan moral manusia. Mereka juga berpendapat bahwa terdapat suatu harmoni yang mendasar antara manusia dengan alam. Manusia memang bagian dari proses alam, tetapi ia juga bersifat spiritual, karena manusia memiliki akal, jiwa, budi, dan nurani.
Tokoh-tokoh aliran idealisme, antara lain: Plato (477-347 Sb.M), B. Spinoza (1632-1677), Liebniz (1685-1753), Berkeley (1685-1753), J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1755-1854) dan G. Hegel (1770-1831).

c. Kritisisme
Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.
Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu Immanuel Kant (1724-1804).

d. Rasionalisme
Para penganut rasionalisme berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal) seseorang. Perkembangan pengetahuan mulai pesat pada abad ke-18. Orang yang dianggap sebagai bapak rasionalisme adalah Rene Descartez (1596-1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern. Semboyannya yang terkenal adalah cogito ergo sum (saya berpikir, jadi saya ada).
Tokoh-tokoh lainnya adalah John Locke (1632-1704), J.J. Rousseau (1712-1778) dan Basedow (1723-1790). John Locke terkenal sebagai tokoh filsafat dan pendidik dengan pandangannya tentang tabula rasa dalam arti bahwa setiap insan diciptakan sama, sebagai kertas kosong. Dengan demikian melatih atau memberikan pendidikan atau pandai menalar merupakan tugas utama pendidikan formal.

e. Logika
Logika adalah aliran filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Menurut Sudarsono (1993:162), logika berasal dari bahasa Yunani, dari kata logike yang berhubungan dengan kata logos yang berarti perkataan atau kata sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Dengan demikian terdapatlah suatu jalinan yang kuat antara pikiran dan kata yang dimanifestasikan dalam bahasa.Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.
Nama logika pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke-1 SM) tetapi dalam arti ‘‘seni berdebat’’. Alexander Aphordisias (sekitar permulaan abad ke-3) adalah orang pertama yang mempergunakan kata logika dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
Di samping itu, Aristoteles pun telah berjasa besar dalam menemukan logika. Namun, ia belum menggunakan nama logika. Ia menggunakan istilah analitika dan dialektika. Analitika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar sedangkan dialektika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis atau putusan yang tidak pasti kebenarannya (Bertens dikutip Surajiyo, 2003:23).

3. Aksiologi
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung,” melainkan faust yang menciptakan Goethe.”
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan.Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral.
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama.Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib, “asalkan kau mampu menemukannya.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap; keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?).
Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik-buruk (moral dan etika). Objek material aksiologi adalah perbuatan atau tingkah laku manusia secara sadar dan bebas. Pada hakikatnya aksiologi erat kaitannya dengan perbuatan manusia. Apabila dikaji secara mendalam tujuan perbuatan manusia adalah kebahagiaan. Karena kekomplekan kajian tentang etika, maka muncullah beberapa paham yang kajiannya menitik beratkan kepada perbuatan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Paham-paham tersebut antara lain: naturalisme, hedonisme, idealisme, perfectionism, theologies, dll (Sudarsono, 1993:197-206).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s